Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi
untuk orang-orang tercinta
Minggu, 13 Mei 2012
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: teman dalam kanvas kenangan
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: teman dalam kanvas kenangan: TEMAN DALAM KANVAS KENANGAN Tebal kabut menyelimuti Mengembunkan airmata yang kering Dibawah...
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: mawar.......
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: mawar.......: MAWAR 2002 Mawar indah beribu duri Tumbuh di taman berlantai darah Seribu tangan telah ...
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: Prosa sedih
Kata Hati, Cermin Jiwa; Zedi Bachmi: Prosa sedih: PROSA SEDIH 20 Desember 2002 Saat ini pelana kehidupan telah kutarik, hingga berjalan. Meni...
mawar.......
MAWAR
2002
Mawar indah beribu duri
Tumbuh di taman
berlantai darah
Seribu tangan telah
terluka perih
Tersayat pedih menelan
parah
Terawat mawar di
peraduan
Tiada tersentuh walau
terkurung sangkar
Hanya menatap,
menggelora hasrat di awan
Demi meraih mahkota yang
hampir mekar
Mawar mekar di tengah
malam
Daku datang melihat
mahkotamu
Di bawah rembulan
purnama penuh
Dikau tersenyum, daku
terpaku
Kini, durimu telah semakin
tajam
Mengeras indah kelopak
menghujam
Semakin jauh dan jauh
daku terpejam
Akankah ku buang ke
taman yang lain dalam diam mendalam
Merengkuh beban cinta
MERENGKUH BEBAN CINTA
2002
Hai, lihat bintang dan
bulan itu, kenapa ia menampakkan muka dalam derasnya hujan. Ternyata ia terangi pohon di timur sosok, di barat pandangan, di selatan
kalbu. Apatah dikau lihat? Pasti dikau pasti melihatnya. Bukankah kita
memandang bulan dan bintang yang sama?
Katakan bahwa cinta kita
bukan hanya memiliki, kita bukan hanya memberi cinta, tapi menyatu, yang
apabila tertarik salah satu ikatannya kita terluka, yang bila terpisah tak
sempurnalah sebuah lambang cinta yang berenda kasih. Memang cinta bukan hanya
memberi, cinta bukan hanya menerima tapi cinta adalah beban yang akan datang
bila kita tak dapat memberi cinta ataupun sebaliknya. Dapatkah dikau rasa bila
kita tak dapat memberi sebuah cinta? Jawablah!
Kuceritakan pada saat
aku telah menyatu dengan mu. Dalam detik, dalam menit, dalam jam, syahdu cinta
mendayu dari corong ke asmara-an, meneriakkan kata hati penuh sedih dan
bahagia. Jiwaku luas, hingga kasih sayangmu menebar di tanah-tanahnya. Hatiku
teduh, tempat cintamu bersandar di peraduannya. Jangan pernah hilang,
kembalilah jika telah hilang dan kuharap tak memakan alunan waktu yang lamban.
Atau cinta itu datang
saat aku telah pergi ?
Atau kasih itu kembali
jika ku telah mati?
Prosa sedih
PROSA
SEDIH
20 Desember 2002
Saat ini pelana
kehidupan telah kutarik, hingga berjalan. Meninggalkan
dirimu yang menangis di tepi beranda beratap seadanya. Hujan yang turun,
membasahi, menggigil dirimu hanya bisa kutatap dengan beban ribuan penderitaan.
Akh, tampaknya kehangatan abadi adalah dalam hati kita yang menyatu dan terikat
tali kenangan.
Sayang, pabila dikau
hadir di ceritera ini, bahwa namaku yang terpuruk di sudut benak, di garis
bibirmu yang terus meratap di depan nurani. Demi cinta dan cerita kita
terpisah. Demi kasih dan sayang kita hilang bersua. Demi kita, demi kita,
anggap denting dawai dan kayu ukir adalah kita mendendangkan lagu indah, lagu
cinta.
Garis awal sebuah prosa
adalah perasaan, bagai berjalan di hutan kesangsian, kutatap dan meninggalkan
bayangan. Berharap ini mimpi di atas realita, karena tak ingin terpisah. Aku
tak ingin berpisah, tolong bangunkan aku, dalam mimpi nyata ini.
Terlihat sabana kering
di atas sana, kadang ku tulis menjadi sebuah gubahan, tiada ku tahu dengan
segenap ke relatifannya. Terkadang membuat dusta, tapi indah.
Duhai ceritaku, di tepi
jurang pembuat indah cerita, bagai seorang penyair jatuh cinta. Adakah dikau
bawa aku seperti itu? Hati kosong, ego kosong dan rasa pedih tak terasa.
Dimanakah kenyataan? Akh, mungkin dikau tersandar di peraduan dalam hidup
setengah sadar, di bawah rembulan yang acuh menatap, mentari yang menerjang.
Aku tahu, kala dikau bersenandung tentang neraka kecil hidupku. Untuk itu, saat
ini tak butuh ceritamu.
Wahai nuansa jiwa dalam
kekalutan
Datanglah pada nuranimu
yang terlepas
Dapatkan dirinya di sana
Dalam kencana kasih
sayang
Dipagari tali cinta
Aku butuh puteri di sana
Yang hampir terlupa
dalam harap.
Akan datangkah badai?
AKAN
DATANGKAH BADAI ?
8 Agustus 2002
Adakah nama indahmu masih terus menghiasi relung-relung hati, di kala tercerabut akar-akar cinta. Tetaplah tergantung bagai burung-burung kayu di kamarku dengan tali-tali putih. Hingga malayang wangi tubuhmu yang terus kuhafal dan kuhirup sebagai pelepas rindu terkekang saat terpisah.
Rerimbunan,rerimbunan,
yang makin hilang. Alasi kasur-kasur putih yang makin kotor ternoda oleh darah,
bisikan anjing-anjing malam dan jauhkan ketakutan diriku terhadap angin malam
yang semakin dingin, membekukan cinta, hati, jiwa dan seribu perasaan
bergamang. Hidupkan baramu agar hangat seluruh tulang dan selimuti aku dengan kasihmu, terpampang
kepastian tentang kita, dan aku bisa kembali pulang.
Ulfa, Ulfa, tak
terlihat wajah cantikmu, kuhanya menemui bongkahan-bongkahan cintamu, yang berwarna
putih dan bergaris indah. Dengan rembulan malam sebagai motif pakaian sutra,
dijahit benang keras serta butir-butir kepedihan dipinggirannya. Jangan bentak
tumbuhan jiwaku kala ia menusukmu, jangan kubur jasad cintaku saat
meninggalkanmu, karena keduanya sedang menahbiskan harapan suatu saat ia ingin
kembali ke peraduan empuknya di pelupuk matamu, dan jangan kau usir dengan
mengusapnya.
Ulfa,Ulfa, ku pergi
tinggalkanmu jauh dan tiada kepastian akan pulang. Masih tegarkah tembok-tembok
hatimu menahan badai yang telah diramalkan akan datang. Masihkah bersih kertas
putih di lembaran cerita hidupmu tentang daku. Tak tahu, hanya pasir-pasir
terbang yang akan melukiskan jalan kita di tepian pantai yang panjang, kadang
terhalang oleh lumpur bergerak yang menghisap kita.
Adakah doamu melukis
jalan hidupku, nan menjadi gambar dirimu pada abstraksnya. Adakah tengadah
tanganmu dibersihkan tetesan airmata yang jatuh satu persatu, sebagai kurir
jalanku, begitupun sebaliknya.
Langganan:
Postingan (Atom)