AH, KABAWETAN
Bicara kami dalam tanjakan
terjal di lekuk tubuhmu,ratap menatap masa depan ataukah seonggok makan. Kami rengkuh
dan bertanya alam betapa kayanya dikau kabawetan. Di bawah kaki-kaki kering
kami, nan luka terhujam batuan-batuan nan telah bertuan, kala kami tertawa, kala
kami bercanda di antara rapatnya daun-daun bak telinga,segar nan mahal. Percayalah,
jangan kami bertanya betapa menusuk sela kerongkongan ataukah menembus usus-usus
yang telah berlubang. Kerajaanmu dimakan waktu, dimakan usia, kami renta, dikau
renta. Betapa kami mendengki kala dikau tetap dipuja, Ah kami dicerca.
Bersulap di pesatnya mata
memandang dalam lukisan alam membentang. Dibarisan bukit barisan yang tiada
rapi lagi dan desir-desir angin yang kian dingin. Terhenyak tanya,di titik
nadir hidup, lintingan tangan hitam berurat kami berdekap menahan lapar.
Nelangsa diri bertutup tudung berlingkar rotan reot kumal, seperti kumalnya
rumah kami, baju anak-anak kami, dan mesjid kami yang pucat tak pernah terwarnai.
Kami bagai selir, dikau adalah raja Kabawetan, dalam istana berkubah, bertalak
pada kami, saat dikau telah dapat semuanya.
Simfoni hentakan gunting
menelisik hati yang beku dan dingin di sini. Bagian tangan dan raga kami, berkendali
pelana sepi,berliku dan menangisi ribuan plasma nutfah kami terganti dengan
konsumsi jadi. Apatah kami alergi memegang rapuhnya bungkus-bungkus anti
nurani? Kami tiada mengerti, nan kami tau tiadalah kami dapat bicara tentu arti.
Ah Kabawetan, dikau
pendiri tembok-tembok tirani yang angkuh, tanpa retak, absolut dan tanpa sekat,
tiada kami dapat mengintip ke dalamnya. Kami orang melayu dalam tingkah yang
bermata besar kini telah buta, tertutup sempit, sesempit dan sesipit mata-mata
mereka. Ah, Kabawetan, dikau mengagungkan suara-suara keras lantang dalam diam
dan tenang, bersimpuh kami hingga terlentang dihimpit beban hidup yang menuntut
untuk terus berhutang.
Ah Kabawetan, kerajaanmu
bak biduan bersuara merdu. Bernyanyi senandung nada sinis tentang meteor
ekonomi. Getar pita suaramu menghantam bumi dan halaman rumah kami, menghantam
ladang-ladang kami, sawah kami dan hajat hidup kami. Apatah kami mampu
menghadangnya? Tiadalah tentu, karena si ular politik pelik dan kalajengking
birokrasi berbisa telah mengaliri darah kami. Bersua kami setiap hari di
refrain tembang-tembangnya, nan tak pernah menjadi kenangan, namun terus
menjadi cerita kepedihan.
Ah Kabawetan, senjata kami
hanyalah jari hitam pelinting daun-daun bertelingamu. Kami wadah indah, sebagai
hilir badai janji-janji. Senjata kami hanyalah gunting kayu yang tlah lapuk,
tiada pernah tajam karena memang tiada pernah disuruh asah. Kenapa Kabawetan?
Karena tiadalah kami dapat memutus doktrin-doktrin hereditas nan kaku dan keras
bagai batu. Tapi percayalah, kami dingin
dan lembut bagai air. Mengaliri lubang-lubang aliran nan hampir kering
di tanah-tanahmu. Kami adalah air yang akan kian memberat bila dibendung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar