DUKA DI HARI LIMA
September berkabut duka
Kala hujan panas
merundung luka
Saat hidup kami
merindukan warna
Pergi, tanpa memberi
sepucuk berita
Ayah
Dalam tatapan kekaburan
hidup
Selembar kenangan
tergantung tak tergapai kami sanggup
Allah melihat, tapi
menunggu
Tiada manusia dapat
berbantah selalu
Di hari Lima duka
menggores
Membuka jalan dunia
lain, kami menangis
Terpandang jauh tiada
tertempuh
Hanya kisah sedih,
airmata yang jatuh
Di hari lima layar sepi
terbuka
Tiada cahaya yang menerangi
Tiada bahagia mengobati
hati mencoba rela
Dikau menjauh, berat
mencoba pergi
Ayah
Di atas nisan kenangan,
anakmu datang
Nan selalu indah di
bunga tidur, tiada mungkin berulang
Lembar nasehat, hanya tertulis terdengar tidak
Sebuah janji, kalbu namamu tak akan retak
Selamat tinggal
Sebaris cerita dunia
kita habis di pintu kubur
Dalam ku bersyahdu engkau datang mengingat
Selamat tinggal
Berucap lidah dalam isak tertahan
Di antara ketidak mengertian kita
Dalam wayang layar kehidupan
Dimana dalangnya adalah
egois manusia
Dalam tangisan terpendam
Dalam kebencian tersimpan
Dalam kasih sayang tertanam
Dalam kedengkian
terkekang
Ayah, Selamat tinggal.
”Sang kitab nasehat dalam hidup”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar