DAMAI SEKUNYIT
Studi Work Camp Sekunyit
berakhir, meninggalkan ribuan lukisan senyum dan airmata tentang sahabat,
menjelang masa yang lalu dan tuntasnya hanya jadi kenangan. Selama 2 bulan
berlalu dari perjalanan waktu. Meninggalkan bekas luka di mata hati,
meninggalkan kerutan-kerutan senyum yang masih dan terus hangat dalam benak.
Studi Work Camp sebuah
perjalanan waktu yang pendek, Study Work Camp kilas balik sebuah kegiatan hidup
yang singkat namun menjadi sebuah penyambung hasrat akan hasrat berjalan ke
masa depan.
Masa lalu tak bolehlah
kita lupakan, karena menjadi pelita ke masa yang akan datang. Tapi, harapan di
dalam hati ingin masa lalu ini terulang dengan segala pahit dan manis sebuah
kenyataan. Study Work Camp terlihat dalam lukisan tak bersuara, tak bergerak
tanpa menyapa. Mereka hanya mampu membuat hati berdegup kencang, menangis,
tatkala roda waktu berputar di pinggiran perihnya suasana. Tertawa saat
bergumul di manisnya malam dengan penuh rembulan.
Amarah memuncak tatkala
mentari tenggelam diantara indahnya laut Desa Sekunyit. Terkadang iri dan rindu
akan kedatanganmu di sini. Jalan pasir lembut membawaku ke alam mimpi, di sapa
ratusan pohon nyiur mengajakku mampir di rindang dan sejuknya desa.
Study Work Camp waktu
yang hilang dalam sempitnya fikiran, membuat amarah untuk mencari lagi waktu
yang hilang ini. Kuingin hatiku seluas tanah lapang hijau nan luas tempat
dimana tenda yang tiang-tiangnya terbuat dari kayu keangkuhan dan tempat kawan
karib bercengkerama, menceritakan gubuk indah sebagai peraduan, puisi-puisi
orang desa yang naif namun penuh kesan dan cantiknya gadis-gadis penambah
semangat hidup. Ku ingin hatiku berontak bagai ombak laut yang pasang yang membuat riang nelayan menangkap ma’ale
dan ka’ite sebagai santap malam yang renyah. Aku ingin hatiku tenang di sini.
Desa Sekunyit, wajahmu
tertempel di album buram ini tersusun rapi oleh senyuman dan dihiasi pelukan
erat kawan karib yang terkekang panasnya sinar mentarimu. Dari lembar ke lembar
gambaran untuk membuka mata hati dan relung nurani hingga ku dapatkan diriku
terbang kesana dan hinggap di pohon bakau pinggiran pantai menunggu perahu
mungil membawaku ke alam damai.
Selamat tinggal
Sekunyit, yang tak tertinggalkan dalam perjalanan hidup. Selamat tinggal Study
Work Camp karena waktu di dunia ini berjalan cepat hingga melupakan kenangan
dan mungkin tak kukenang lagi untuk melangkah ke masa depanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar