MARYAM
YANG DATANG DAN YANG PERGI...
Tertarik kisah terlepas, ribuan tangis tiada tertata
saat dikau pergi. Daku tiada mengerti apatah hari memahami arti diamku, raguku,
penatku dan gelisahku. Namun, ketika roda waktu dunia tlah usai merasuk
perasaan hampa, berasap dan muram durja. Dalam hujan ini, tetesannya seakan
menangis menghentak bumi, sakitkah? Perihkah? Hanya air-airnya yang tahu.
Dalam tengadahku mengingat jalan hidup berliku, kita
sebagai wayangnya disana. Aku tahu ibu, dikau penuh lelah keikhlasan, tercampur
amarah disudut benakmu. Jikala daku
menangis merengek sepotong kepala ikan penuh kuah, lezat, dibumbuhi rasa kasih
sayangnya, dan candanya di seruputan mulut mungilku, dalam gelapnya cahaya,nan
tiada kita sadar bahwa besok berhari raya.
Dikau berjalan goyangkan dunia, melompat-lompat menghindari lemparan
rajam dunia yang seringkali dirasa. Ah, jalan menuju rumah sangat susah kita
capai.
Mari ibuku, masuklah dalam istana kita, yang telah
terbangun dari lempengan derita, tonggak-tonggak amarah, batuan-batuan benci,
dan dinding-dinding kelakar menghina. Tapi kita tenang di dalamnya, karena ada
cinta yang telah ditimbun dengan metafora dunia. Karena didalamnya ada antologi
hidup yang mengakar sejati. Didalamnya
ada lantunan nada dogma-dogma kelembutan nan dikau rekam dengan frase-frase
indah dari sayatan hati. Dikau menghantam tembok yang berlumut kesombongan dan
dikau menerjang batang-batang penuh onak terlentang di jalan hidupmu, nan
seringkali menghalangi kami anakmu.
Jam dua malam yang suram, dikau tersentak lalu
terhenyak di dinding peraduan, saat menyapa kami menggigit menghirup air soda,
menggelembung menghempas kantukmu. Kami tahu, dikau berhutang nyawa dibatas
fajar. Membeli impian dengan recehan semangat membayar, mengagumkan seseorang
dengan senyum jujurmu di pelataran pintu penuh palang-palang.
Dalam hayalan dipucuk temaram yang terus bergoyang,
kurus badanmu melayang terhembus angin. Tiada daku tahu dikau telah sakit ibu,
menahan tangisan kami yang menusuk bagai pisau ke lubuk hatimu. Apatah dikau
berharap kami menjadi orang besar, kami tiada tahu, mereka juga tiada tahu,
hanya detik waktu yang tahu, nan kau tata seperti lipatan baju kami di lemari
rotan reot yang telah terlepas paku-paku. Nan kau sulam cita-cita kami bak
jelujur di tapak sepatu kami yang telah lepas. Saat itu pula bagai lepas cita
kami disorakan cemooh yang berirama keangkuhan.
Dalam rebahan diri, daku bersua cerita lama dalam
tersiksa, membeli lingkaran racun nan terpaksa untuk kubeli. Daku menghentak,
daku marah, daku penat. Ketika pukulan kebencian menghantam kalbu hingga badai
datang dalam raga. Daku lihat dikau disudut tiga kamar lusuh, tersenyum penuh
hasrat, penuh geliat dan yakin tinggi, bahwa daku bakal menghujam langit,
menghantar petir dan membanjiri jiwa-jiwa kering dari kasih sayang. Lalu kita
pergi, berlalu sambil tertawa karena kita mengerti bahwa kita akan kembali
kesini. Sayang ibu, kau tak tunggu aku di tiga belas tahun menanti.
Ibu, tiada pernah daku terucap sayang, dan lantunan
lagu terima kasih disela ubun-ubunmu yang ditumbuhi rambut nan lebat beruban.
Dalam renjana merah di batasan cakrawala, dikau seakan merana, terduduk menunggu
bersua airmata. Kami terasa hina, bersuka dalam tawa yang memenjarakan rasa
bahagiamu. Ibu, bertahan kami dalam sedih nan kau tinggal, bertahan kami
mengirim kafan-kafan kasih sayang hingga masuk ke liang. Semoga Allah
mengizinkan kiriman kami hingga ke surga, kami sangat menyayangimu ibu, namun
kami tau bahwa Allah lebih menyayangimu.
……dikau ibuku, panutan hidupku, nenek anak-anakku,
kau halus di keras kehidupan, dikau air dalam penjara dahaga, dikau kanopi
pepohonan di retakan kepanasan kami, dikau belajar mencinta bukan mengajarkan
untuk membalas. Dikau merengkuh canda di
labuhan jiwa yang tertekan perih, tiada pernah dikau ajari kecuali lukiskan
teladan sejati. Dikau ibu, anugerah dari Allah untuk kami, sayang, terlalu
sebentar kami rasa bertiti……
Dikau pergi di tembok keramahan yang dikau senangi, dikau pergi di rumah yang
dikau isi teladani, dikau pergi di kamar yang dikau siram kasih sayang
didalamnya, dikau pergi di kasur-kasur
empuk tempat kami bersua cerita tentang dunia, dan dikau pergi dalam
diam penuh ketenangan menuju ke surga yang ingin kau pilih. Karena Allah lebih
menyayangimu, dan memilihkan dikau tempat terindah.
Tiadalah kami bertangis mengenang surga yang dikau
dapatkan, tangisan ini untuk mereka yang telah dikau beri jilbab indahmu, untuk
mereka yang telah sedekahi makanan dibeli tiada mampu, untuk mereka yang dikau
beri nafkah sebagai lampu, untuk mereka yang dikau nasehati penuh rambu. Ibu,
apatah orang baik sepertimu hanya berumur enam puluh? Ah, bahagianya dikau,
membuat iri kami yang berbuat tiada mampu.
Ibu, dikau berhak dapatkan surga dan
singgasanaNya,karena Allah tlah berikan dikau putaran waktu bersua amal. Dikau
berhak bercebur disungai-sungai surgaNya, karena dikau peneduh suasana. Kami
berdoa ibu, dikau bertemu ayah di sana dalam suka,tawa, bercerita tentang
permainan dunia, saling memaafkankan, walaupun pada akhirnya tidak dalam satu
istana.
Semerbak wangi peraduanmu ibu, ku elus saat daku
tiada bertemu. Daku tahu, dikau berjuang lelah hingga tarikan nafas terakhirmu.
Dikau tiada bersuara, dikau tiada membantah, dan dikau tiada daya, pasrah
ketentuanNya. Ibu, daku akan selalu memeluk dan merangkulmu dalam doa-doa.
Selamat jalan ibu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar