Selasa, 01 Mei 2012

prosa terdalam


PROSA TERDALAM

Kuceritakan pada saat aku pertama kali memandangmu, dalam geraian rambut gelap melambai di angin-angin yang menerbangkan debu-debu. Gerakan sombongmu, menghantarku dalam mimpi, dalam kebasahan, dalam kehinaan dan juga kekelahan. Kekalahan melukis kehidupan, terlindung lubang-lubang jalannya dan terperosok kesiring di pinggirnya. Apatah mungkin dikau tahu?

Kuceritakan pada saat pertama kali mataku dan matamu bertemu, menyalurkan sinar keunguan, disana ada cinta, disana ada egoisme dan disana ada nafsu. Ah, Cuma aku yang tahu dan menelusuri lukisan wajahmu dalam senyum, ternyata memang lurus, tenang dan bersahaja semua menjadi satu dalam wadah cinta yang pernah aku miliki. Apatah mungkin dikau tahu?

Kuceritakan pertama kali bertemu dalam peluh dan bau. Saat panas membara, celoteh penuh dan tanpa makna dan tanjakan yang kudaki seakan sebuah mimpi, dan pohon yang meneduhi seakan sebuah nafas, hus...huss...aku terperangah dan wajah yang kupandangi seakan sebuah tiang-tiang ketabahan, kesejukan. Akh, Cuma aku yang tahu. Apatah dikau tahu?

Kuceritakan pada saat aku bertatap denganmu. Jadikan inspirasi yang menasbihkan kebekuan dan ku hanya bisa menulis satu sajak sedih, terakhir tentangku, tentangmu, tentang alam dan cinta-Nya kepada manusia, aku hanya meringis.

Apatah kau butuh cerita lainnya? Habis, telah habis, karena aku beku didepanmu mengeras kaku dalam kepecahan suasana kalbu yang menyelimuti kulit, menusuk bagai anak panah matamu. Jangan, jangan pernah sesali pertemuan ini, pertemuan indah ini.

Kuceritakan ini dalam berisiknya suara hujan, sebuah fenomena yang menakjubkan, angin dingin, tanah dingin, tetesannya dingin menjalar mencuci nurani, membaca fikiran menusuk tulang dalam dengungan nada indah itu. Apakah engkau tahu?

Kuceritakan pada saat ku menyentuh tanganmu. Dalam suasana sepi hanya air-air yang menemani dan lusuhnya pakaian yang berlukis cinta yang penuh kasih. Dalam benci kita tertawa, dalam canda bahkan kita menangis. Tetapi kita tetap bahagia. Adakah air cinta itu hanyut bersama embun di dedaunan jatuh ke tanah, meresap. Hanya engkau yang tahu.

Kuceritakan pada saat kuimpikan dirimu, melepas jauh dalam malam diantara gemerisik daun kering di belukar itu, kupanggil namamu dalam segenap jiwaku, dalam segenap cinta, dalam segenap kasih sayang. Oh seandainya kau tak merengkuhku sebelum kau pergi. Kau tak akan ku kejar.

2 komentar: