PROSA TERDALAM
Kuceritakan pada saat
aku pertama kali memandangmu, dalam geraian rambut gelap melambai di
angin-angin yang menerbangkan debu-debu. Gerakan sombongmu,
menghantarku dalam mimpi, dalam kebasahan, dalam kehinaan dan juga kekelahan.
Kekalahan melukis kehidupan, terlindung lubang-lubang jalannya dan terperosok
kesiring di pinggirnya. Apatah mungkin dikau tahu?
Kuceritakan pada saat
pertama kali mataku dan matamu bertemu, menyalurkan sinar keunguan, disana ada
cinta, disana ada egoisme dan disana ada nafsu. Ah, Cuma aku yang tahu dan
menelusuri lukisan wajahmu dalam senyum, ternyata memang lurus, tenang dan
bersahaja semua menjadi satu dalam wadah cinta yang pernah aku miliki. Apatah
mungkin dikau tahu?
Kuceritakan pertama kali
bertemu dalam peluh dan bau. Saat panas membara, celoteh penuh dan tanpa makna
dan tanjakan yang kudaki seakan sebuah mimpi, dan pohon yang meneduhi seakan
sebuah nafas, hus...huss...aku terperangah dan wajah yang kupandangi seakan
sebuah tiang-tiang ketabahan, kesejukan. Akh, Cuma aku yang tahu. Apatah dikau
tahu?
Kuceritakan pada saat
aku bertatap denganmu. Jadikan inspirasi yang menasbihkan kebekuan dan ku hanya
bisa menulis satu sajak sedih, terakhir tentangku, tentangmu, tentang alam dan
cinta-Nya kepada manusia, aku hanya meringis.
Apatah kau butuh cerita
lainnya? Habis, telah habis, karena aku beku didepanmu mengeras kaku dalam
kepecahan suasana kalbu yang menyelimuti kulit, menusuk bagai anak panah
matamu. Jangan, jangan pernah sesali pertemuan ini, pertemuan indah ini.
Kuceritakan ini dalam
berisiknya suara hujan, sebuah fenomena yang menakjubkan, angin dingin, tanah
dingin, tetesannya dingin menjalar mencuci nurani, membaca fikiran menusuk
tulang dalam dengungan nada indah itu. Apakah engkau tahu?
Kuceritakan pada saat ku
menyentuh tanganmu. Dalam suasana sepi hanya air-air yang menemani dan lusuhnya
pakaian yang berlukis cinta yang penuh kasih. Dalam benci kita tertawa, dalam
canda bahkan kita menangis. Tetapi kita tetap bahagia. Adakah air cinta itu
hanyut bersama embun di dedaunan jatuh ke tanah, meresap. Hanya engkau yang
tahu.
Kuceritakan pada saat
kuimpikan dirimu, melepas jauh dalam malam diantara gemerisik daun kering di
belukar itu, kupanggil namamu dalam segenap jiwaku, dalam segenap cinta, dalam
segenap kasih sayang. Oh seandainya kau tak merengkuhku sebelum kau pergi. Kau
tak akan ku kejar.
asik ,ok ne mz prosanya ,sipppppppppppp pokoe
BalasHapustrims...semoga bs mjd penggugah jiwa
Hapus