PROSA
SEDIH
20 Desember 2002
Saat ini pelana
kehidupan telah kutarik, hingga berjalan. Meninggalkan
dirimu yang menangis di tepi beranda beratap seadanya. Hujan yang turun,
membasahi, menggigil dirimu hanya bisa kutatap dengan beban ribuan penderitaan.
Akh, tampaknya kehangatan abadi adalah dalam hati kita yang menyatu dan terikat
tali kenangan.
Sayang, pabila dikau
hadir di ceritera ini, bahwa namaku yang terpuruk di sudut benak, di garis
bibirmu yang terus meratap di depan nurani. Demi cinta dan cerita kita
terpisah. Demi kasih dan sayang kita hilang bersua. Demi kita, demi kita,
anggap denting dawai dan kayu ukir adalah kita mendendangkan lagu indah, lagu
cinta.
Garis awal sebuah prosa
adalah perasaan, bagai berjalan di hutan kesangsian, kutatap dan meninggalkan
bayangan. Berharap ini mimpi di atas realita, karena tak ingin terpisah. Aku
tak ingin berpisah, tolong bangunkan aku, dalam mimpi nyata ini.
Terlihat sabana kering
di atas sana, kadang ku tulis menjadi sebuah gubahan, tiada ku tahu dengan
segenap ke relatifannya. Terkadang membuat dusta, tapi indah.
Duhai ceritaku, di tepi
jurang pembuat indah cerita, bagai seorang penyair jatuh cinta. Adakah dikau
bawa aku seperti itu? Hati kosong, ego kosong dan rasa pedih tak terasa.
Dimanakah kenyataan? Akh, mungkin dikau tersandar di peraduan dalam hidup
setengah sadar, di bawah rembulan yang acuh menatap, mentari yang menerjang.
Aku tahu, kala dikau bersenandung tentang neraka kecil hidupku. Untuk itu, saat
ini tak butuh ceritamu.
Wahai nuansa jiwa dalam
kekalutan
Datanglah pada nuranimu
yang terlepas
Dapatkan dirinya di sana
Dalam kencana kasih
sayang
Dipagari tali cinta
Aku butuh puteri di sana
Yang hampir terlupa
dalam harap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar