AKAN
DATANGKAH BADAI ?
8 Agustus 2002
Adakah nama indahmu masih terus menghiasi relung-relung hati, di kala tercerabut akar-akar cinta. Tetaplah tergantung bagai burung-burung kayu di kamarku dengan tali-tali putih. Hingga malayang wangi tubuhmu yang terus kuhafal dan kuhirup sebagai pelepas rindu terkekang saat terpisah.
Rerimbunan,rerimbunan,
yang makin hilang. Alasi kasur-kasur putih yang makin kotor ternoda oleh darah,
bisikan anjing-anjing malam dan jauhkan ketakutan diriku terhadap angin malam
yang semakin dingin, membekukan cinta, hati, jiwa dan seribu perasaan
bergamang. Hidupkan baramu agar hangat seluruh tulang dan selimuti aku dengan kasihmu, terpampang
kepastian tentang kita, dan aku bisa kembali pulang.
Ulfa, Ulfa, tak
terlihat wajah cantikmu, kuhanya menemui bongkahan-bongkahan cintamu, yang berwarna
putih dan bergaris indah. Dengan rembulan malam sebagai motif pakaian sutra,
dijahit benang keras serta butir-butir kepedihan dipinggirannya. Jangan bentak
tumbuhan jiwaku kala ia menusukmu, jangan kubur jasad cintaku saat
meninggalkanmu, karena keduanya sedang menahbiskan harapan suatu saat ia ingin
kembali ke peraduan empuknya di pelupuk matamu, dan jangan kau usir dengan
mengusapnya.
Ulfa,Ulfa, ku pergi
tinggalkanmu jauh dan tiada kepastian akan pulang. Masih tegarkah tembok-tembok
hatimu menahan badai yang telah diramalkan akan datang. Masihkah bersih kertas
putih di lembaran cerita hidupmu tentang daku. Tak tahu, hanya pasir-pasir
terbang yang akan melukiskan jalan kita di tepian pantai yang panjang, kadang
terhalang oleh lumpur bergerak yang menghisap kita.
Adakah doamu melukis
jalan hidupku, nan menjadi gambar dirimu pada abstraksnya. Adakah tengadah
tanganmu dibersihkan tetesan airmata yang jatuh satu persatu, sebagai kurir
jalanku, begitupun sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar