Minggu, 13 Mei 2012

Akan datangkah badai?


AKAN DATANGKAH BADAI ?
8 Agustus 2002

Adakah nama indahmu masih terus menghiasi relung-relung hati, di kala tercerabut akar-akar cinta. Tetaplah tergantung bagai burung-burung kayu di kamarku dengan tali-tali putih. Hingga malayang wangi tubuhmu yang terus kuhafal dan kuhirup sebagai pelepas rindu terkekang saat terpisah.

Rerimbunan,rerimbunan, yang makin hilang. Alasi kasur-kasur putih yang makin kotor ternoda oleh darah, bisikan anjing-anjing malam dan jauhkan ketakutan diriku terhadap angin malam yang semakin dingin, membekukan cinta, hati, jiwa dan seribu perasaan bergamang. Hidupkan baramu agar hangat seluruh tulang dan  selimuti aku dengan kasihmu, terpampang kepastian tentang kita, dan aku bisa kembali pulang.

Ulfa, Ulfa, tak terlihat wajah cantikmu, kuhanya menemui bongkahan-bongkahan cintamu, yang berwarna putih dan bergaris indah. Dengan rembulan malam sebagai motif pakaian sutra, dijahit benang keras serta butir-butir kepedihan dipinggirannya. Jangan bentak tumbuhan jiwaku kala ia menusukmu, jangan kubur jasad cintaku saat meninggalkanmu, karena keduanya sedang menahbiskan harapan suatu saat ia ingin kembali ke peraduan empuknya di pelupuk matamu, dan jangan kau usir dengan mengusapnya.

Ulfa,Ulfa, ku pergi tinggalkanmu jauh dan tiada kepastian akan pulang. Masih tegarkah tembok-tembok hatimu menahan badai yang telah diramalkan akan datang. Masihkah bersih kertas putih di lembaran cerita hidupmu tentang daku. Tak tahu, hanya pasir-pasir terbang yang akan melukiskan jalan kita di tepian pantai yang panjang, kadang terhalang oleh lumpur bergerak yang menghisap kita.

Adakah doamu melukis jalan hidupku, nan menjadi gambar dirimu pada abstraksnya. Adakah tengadah tanganmu dibersihkan tetesan airmata yang jatuh satu persatu, sebagai kurir jalanku, begitupun sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar